Share It

Minggu, 01 Juli 2012

KONSELING KELUARGA MAKALAH ORANGTUA YANG OTORITER TERHADAP ANAK Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah konseling keluarga Dosen pengampu:Mulyani S.pd Oleh: Nama:Siti Pebrianti Kelas:IV F NPM:1110500144 PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL 2012 BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Keluarga adalah suatu ikatan perseketuaan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laku- laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak- anak,baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.Unsur unsur yang terkandung dalam pengertian keluarga merupakan perserikatan hidup antara manusia yang paling dasar dan kecil.Perserikatan itu paling sedikit terdiri dari dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin.Perserikatan itu berdasar atas ikatan darah,perkawinan dan atau adopsi.Keluarga hanya terdiri dari seorang laki- laki saja atau seorang perempuan saja dengan dengan atau tanpa anak- anak. Adapun dalam keluarga pasti ada masalah yang timbul didalamnya,walaupun masalah itu kecil maupun besar dan semua itu bergantung pada keluarga tersebut apakah dapat menyelesaikan maslahnya tau tidak.Adapun keluarga mempunyai peran besar dalam mendidik perilaku anak dan hubungan antara orang tua dan anak merupakan hubungan timbal balik.Dalam hal ini peran orangtua dalam mendidik anak sangat besar .Para orang tua mempunyai model tersendiri dalam mendidik anaknya adapun orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya namun apa yang menjadi harapan orang tua belum tentu yang terbaik bagi anaknya.Adapula orang tua yang bersikap otoriter terhadap anaknya Kepribadian dan karakter seseorang dipengaruhi oleh bagaimana cara orangtua dulu mengasuhnya. Semua pola asuh baik yang terlalu kaku atau bebas akan mempengaruhi kepribadian anak nantinya. Setiap keluarga pasti memiliki harapan dan keinginan terhadap anaknya, sehingga segala cara diusahakan untuk mencapai hal tersebut. Tapi terkadang cara yang ditempuh atau pola asuh yang diberikan terlalu berlebihan Pola asuh yang diberikan oleh orangtua pada anaknya bisa dalam bentuk perlakuan fisik maupun psikis yang tercermin dalam tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan yang diberikan. "Sebenarnya tidak ada pola asuh yang benar atau salah terhadap anak. Pola asuh yang paling tepat adalah menyesuaikannya dengan situasi atau menggunakan teknik tarik ulur," ujar Alzena Masykouri MPsi, saat dihubungi detikHealth, Senin (3/1/2011). Alzena mengungkapkan pengaruh pola asuh terhadap kepribadian dan karakter si anak nantinya sangat besar. Apa yang diberikan oleh orangtuanya sejak anak dilahirkan hingga ia berusia 15-16 tahun akan membentuk kepribadian anak. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut,maka penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan diantaranya sebagai berikut: • Faktor faktor orangtua bersikap otoriter terhadap anknya • Sebab- sebab terjadinya keluarga otoriter • Ciri- ciri keluarga otoriter • Dampak keluarga otoriter terhadap anak • Solusi Tujuan penulis Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari permasalahan yang dikemukakan diatas.Oleh karena itu peneliti ini bertujuan: • Untuk mengetahui proses pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah akibat dari perilaku otoriter orangtua terhadap anak • Untuk mengetahui keberhasilan dari pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam Mengatasi perilaku orangtua yang otoriter BAB II PEMBAHASAN Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Pola asuh ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak selain hubungannya dengan ibunya. Pola asuh ini juga berpengaruh terhadap keberhasilan keluarga dalam mentasfer dan menanamkan nilai nilai agama, kebaikan, norma norma yang berlaku di masyarakat. Pola asuh anak meliputi interaksi antara orangtua dan anak dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis. Bersikap kaku atau menghukum kepada anak adalah sama dengan mendorong mereka menjadi tidak bermoral. Tidak memiliki batas internal dan aturan. Dan rentan pada otoritarianisme. Perlakuan yang sama menjadikan mereka permisif- satu sisi yang baik. Walkerdine dan Lucy (1989) dengan efektif menyoroti masalah ini dalam menafsirkan analisis Tizard dan Hughes (1989) tentang perbedaan kelas dalam pembicaraan ibu dan Anak. Mereka menyimpulkan bagaimana pemujaan yang luar biasa terhadap “sifat Ibu yang peka” berfungsi mempatologis perempuan kelas pekerja yang gagal menunjukan perilaku-perilaku yang disaratkan tersebut. Ada 3 jenis pola asuh menurut Hurlock dan Hardy dan Heyes: 1. Pola asuh yang otoriter, ditandai dengan orangtua yang melarang anaknya dengan mengorbankan kebebasan anak. 2. Pola asuh yang permisif, ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan keinginannya. 3. Pola asuh yang demokratis, biasanya ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orangtua dan anaknya. . Pada pola asuh otoriter biasanya keluarga yang menganut pola asuh ini anak anaknya tidak meiliki kebebasan untuk menentukan keputusan bahkan untuk dirinya sendiri karena semua keputusan berada ditangan orangtuanya dan di buat oleh orangtuanya, sementara anak harus mematuhi tanpa ada kesempatan untuk menolak ataupun mengemukakan pendapat. Cirri khas pola asuh ini diantaranya adalah kesuksesan orangtua dominan jika tidak boleh dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orangtua akan mendapat hukuman yang keras, pendapat anak tidak di dengarkan sehingga anak tidak memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol dengan sangat ketat. Awal mula Susi adalah seorang wanita karir begitu pula dengan suaminya yang sibuk bekerja.Susi mempunyai pengalaman yang kurang baik semasa ia masih remaja dalam pergaulannya dan dapat dikatakan pula kalau Susi mengenal pergaulan bebas sehingga ketika ia mempunyai seorang anak perempuan yang menginjak remaja ia sangat khawatir anaknya akan bergaul seperti waktu dirinya masih muda,Dari kekhawatiran itu maka Susi sangat mengontrol setiap kegiatan yang dilakukan anaknya dan dapat dikatakan Susi termasuk orangtua yang otoriter karena tidak memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melakukan apa apa yang menjadi keinginannya bahkan dalam pemilihan sekolah maupun bergaul Susi selalu yang memilih buat anaknya padahal apa apa yang menjadi keinginan atau harapan orangtua tidak selalu sejalan dengan keinginan anaknya.Seorang anak juga memiliki hak untuk menentukan masadepannya dan apa yang menjadi kebutuhannya.Akibat dari pola asuh yang otoriter anak Susi menjadi tertekan dan bukan hal positif yang didapat tapi semakin ditekan anak justru semakin berani untuk melakukan hal hal yang ia sukai tanpa melihat baik atau buruk dampak bagi anak tersebut. Faktor Penyebab orangtua yang otoriter Kepribadian dan karakter seseorang dipengaruhi oleh bagaimana cara orangtua dulu mengasuhnya. Semua pola asuh baik yang terlalu kaku atau bebas akan mempengaruhi kepribadian anak nantinya.Setiap keluarga pasti memiliki harapan dan keinginan terhadap anaknya, sehingga segala cara diusahakan untuk mencapai hal tersebut. Tapi terkadang cara yang ditempuh atau pola asuh yang diberikan terlalu berlebihan.Pola asuh yang diberikan oleh orangtua pada anaknya bisa dalam bentuk perlakuan fisik maupun psikis yang tercermin dalam tutur kata, sikap, perilaku dan tindakan yang diberikan.Dalam hal ini faktornya adalah faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal meliputi pengalaman masalalu dari oangtua sehingga orangtua mempunyai kekhawatiran yang berlebihan kepada anak yang menyebabkan orangtua tersebut bersikap otoriter terhadap anknya.Faktor eksternal misalnya orangtua yang melihat perkembangan atau pergaulan sekarang anak remaja yang semakin tidak terkontrol sehingga orangtua takut bahkan khawatir anaknya akan terjerumus kedalam pergaulan yang salah atau pergaulan bebas Sebab- sebab trjadinya keluarga yang otoriter Orang tua dapat memilih pola asuh yang tepat dan ideal bagi anaknya. Orang tua yang salah menerapkan pola asuh akan membawa akibat buruk bagi perkembangan jiwa anak. Tentu saja penerapan orang tua diharapkan dapat menerapkan pola asuh yang bijaksana atau menerapkan pola asuh yang setidak-tidaknya tidak membawa kehancuran atau merusak jiwa dan watak seorang anak.Sebab terjadinya leluarga otoriter adalah orangtua yang mempunyai pengalaman buruk semasa masih muda sehingga orangtua tersebut yang mempunyai anak menginjak remaja takut anaknya melakukan hal hal yang negatif seperti dilakukan oleh orangtuanya semasa masih muda dulu Ciri- ciri keluarga otoriter • Orangtua selalu memaksakan apa yang menjadi keinginannya tanpa melihat perasaan anak. • Anak dimarah- marahi orangtua tanpa sebab. • Orangtua membatasi pergaulan anaknya. • Kehidupan anak selalu diatur oleh orangtua. • Anak yang tidak mematuhi orangtua akan mendapat hukuman yang keras. • Pendapat anak tidak di dengarkan sehingga anak tidak memiliki eksistensi dirumah. • tingkah laku anak dikontrol dengan sangat ketat. Dampak keluarga yang otoriter Pola asuh orangtua yang salah membuat anak menjadi agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh orangtua bukanlah salah satu faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.Adapun menurut Middlebrook hukuman fisik yang biasanya diterapkan dalm pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak. Hal itu dapat menyebabkan beberapa masalahnya diantaranya sebagai berikut: - 1. Menyebabkan anak marah dan frustasi secara psikologi tentu sangat menganggu pribadi anak sndri sehingga anak juga tidak akan bisa belajar optimal - 2. Timbulnya perasaan perasaan menyakitkan atau sakit hati pada diri anak yang mendorong tingkah laku agresif - 3. Akibat hukuman hukuman itu dapat meluas sasarannya dan lebih membawa efek negative. Misalnya anak menahan diri atau memukul atau merusak hanya ketika orangtua ada didekatnya. Tetapi akan segera melakukan tindakan merusak setelah orangtua tidak ada. - 4. Tingkah laku agresif orangtua akan menjadi contoh bagi anak sehingga anak akan menirunya. Hasil penelitian Rohner menunjukan bahwa pengalaman masa kecil seeorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian (karekter atau kecerdasan emosinya). penelitian yang menggunakan teori PAR ( parental acceptance rejection) menunjukan bahwa pola asuh orangtua baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anakanya, akan mempengaruhi perkembangan emosi, prilaku, sosial kognitif, dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika anak dewasa kelak. Solusi masalah Cintai dan Sayangi Anak-anak Anak yang mendapatkan cinta dan kasih sayang yang cukup dari orangtua nya akan dapat menghadapi masalah yang menghadangnya ketika mereka berada diluar rumah dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya, jika anak anak terlalu dicampuri urusannya atau orang tua terlalu memaksakan kehendaknya, anak akan merasa diintervensi dan pada akhirnya akan menghalangi membentuk pribadi yang sempurna. Saling menghormati antara kedua Orangtua dan Anak Hormat bukan berarti takut. Orangtua harus punya ketegasan tapi tetap mengakomodasi keinginan dan permintaan yang logis dari anak. Orangtua juga tidak boleh kebal kritik. Saling menghormati artinya anak dan orangtua tetap menciptakan kasih sayang, namun tetap menjaga hak-hak nya. Orangtua harus tetap menjaga hak-hak hukumnya. Jangan sampai ingin menciptakan suasana kasih sayang hokum-hukum yang telah dibuat keluarga menjadi longgar. Itulah sebabnya, orangtua tidak boleh otoriter dan anak-anak tidak boleh permisif. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling menghargai. Mewujudkan kepercayaan Kepercayaan diri pada anak sangat penting. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan membuat mereka mudah menerima kekurangan yang ada pada dirinya. Berilah kepercayaan kepada mereka dan hargailah. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka. Penghargaan dan kepercayaan yang diberikan orangtua akan membuat anak menjadi mandiri,maju, dan selalu berusaha berani dalam bersikap. Mereka menjadi lebih percaya diri dan yakin dengan kemampuan sendiri. BAB III PENUTUP Kesimpulan Keluarga adalah suatu ikatan perseketuaan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laku- laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak.Pada pola asuh otoriter biasanya keluarga yang menganut pola asuh ini anak anaknya tidak meiliki kebebasan untuk menentukan keputusan bahkan untuk dirinya sendiri karena semua keputusan berada ditangan orangtuanya dan di buat oleh orangtuanya, sementara anak harus mematuhi tanpa ada kesempatan untuk menolak ataupun mengemukakan pendapat. Ciri khas pola asuh ini diantaranya adalah kesuksesan orangtua dominan jika tidak boleh dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orangtua akan mendapat hukuman yang keras, pendapat anak tidak di dengarkan sehingga anak tidak memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol dengan sangat ketat. Saran Perlu adanya perbaikan pada orangtua dalam mendidik anak agar tidak terjadi penyimpangan yang dilakukan anak akibat pola asuh dari orang tua yang otoriter.Orangtua juga harus mendengarkan apa yang menjadi keinginan dan pendapat anak . Daftar Pustaka Gunarsa, D.Singgih.Dasar dan teori Perkembangan Anak.Jakarta: PT EBK Gunung Mulia, 2008 Clemes, Harris. 2001. Mengajarkan Disiplin Kepada Anak. Jakarta. Mitra Utama. Riyanto, Theo. 2002. Pembelajaran Sebagi Proses Bimbingan Pribadi. Jakarta: Gramediaa Widiasarana Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar